Puisi-puisi Abimardha Kurniawan
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO ilustrasi maafkan, ini malam terlampau sesak berbeban sunyi dan geligi hujan.
aku pun terhalang pada pandang, gagal menjumpai kata-kata berperahu, menempuh riam jeram sungai berbatu, dari bibirmu jauh ke pedalaman tidurku...
2006
Nyanyain Pagi
kini, aku dan puisiku kembali menghirup pagi setelah kemarin, kukenang kata-katamu — juga warna senyummu— sebagai ketabahan senja yang selalu membuka pintu, bagi angin, hujan, serta malam
aku mengeja cinta yang penuh nyanyian namun enggan aku suarakan, sebab aku biarkan ceracau hujan riang berkejaran dengan bisik gugur daun yang jatuh di jalanan
akhirnya, seisi pagi aku lukis jua lewat kata, lewat demam rindu yang terus bersuara, oleh karena senantiasa aku tahu diri dan puisimu, berlagu di situ...
2007
Terdengar Suara Hujan
terdengar suara hujan mematuk punggung jalan, terakota atap, selaput daun, dan tik-tok detik terbantun. cahaya pun murung, langit muram gagal mengumpan bianglala dari lubuk cuaca
“aku rindu mati, aku rindu papan namaku kau paku di punggung pintu. seperti engkau hujan — aku selalu menunggu luruh di pelataran”
terdengar suara hujan menginjak rumput taman, lantai trotoar, meniti kawat-kawat menjalar: seakan pekik mualim memanggil, membujuk bujang datang berlayar
“aku rindu ombakmu, aku rindu bahasa laut yang fasih mengucap maut. hujan, kau gurat sungai, kau jadikan jalan, atas temali cinta antara hulu dan muara. hujan, ciptakan laut di atas dunia biar manusia bersua hakikatnya”
terdengar suara hujan menjentik di air kolam, gigil kerikil, dan bebatuan yang mengulum diam — mungkin juga mengulum dendam
2007
Sebelum Kata
ingin aku ciptakan kata demi kata yang mampu membuahkan senyum bibirmu setelah gerimis rahasia menyusun cerita tentang malam yang membeku pada helaian rambutmu
2010
Stanza Bulu Mata
lengkung bulu mata milik boneka yang kau timang dulu kini menjelma gemaris indah yang menggigir di sisi sayu pelupukmu. lembaran cahaya pun berlompatan dari keajaiban sepasang tatap mata
dan aku menyebutnya — surat cinta... ah, lengkung bulu mata yang menyimpan bianglala, yang menyeret gemulung awan ke ambang senja, kini jadi hujan dalam kata-kata yang tengah kau baca
2010
Abimardha Kurniawan, lahir di Surabaya, 26 Maret 1986. Aktif di Teater Mata Angin Universitas Airlangga, Surabaya. Tulisan dan puisi-puisinya pernah muncul di media massa (cetak maupun online). Puisi-puisinya terhimpun dalam antologi bersama, seperti Monolog Kelahiran (2006), Rubaiyat Daun (2006), Kepada Mereka yang Katanya Dekat dengan Tuhan: Antologi Penyair Mutakhir Jawa Timur (2007), Surabaya 714: Antologi Puisi Malam Sastra Surabaya (2007), Ponari for President (2009), dan Ekstase Perenungan (2010), Antologi Festival Bulan Purnama Majapahit (2010), dan Beranda Senja (2010). Saat ini tinggal (sementara) di Yogyakarta. Alamat email: abimardhakurniawan@yahoo.com
source : http://oase.kompas.com/read/2011/04/04/23315564/Puisipuisi.Abimardha.Kurniawan







-My Link
Terima kasih telah mengunjungi windeartfly.co.cc Silakan tinggalkan komentar jika anda berkenan
Berkomentarlah dengan baik dan sopan demi kenyamanan bersama.