Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic
Jika kemarin tidak berakhir seperti yang kamu inginkan, ingatlah jika Tuhan ingin kemarinmu sempurna, Dia tidak perlu ciptakan hari ini
Image and video hosting by TinyPic

Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

gravatar

Sejarah Hari Kartini


 http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:b2v4yMvE5rS70M:http://nanpunya.files.wordpress.com/2009/04/kartini1.jpg

  Siapa sebenarnya R.A Kartini? Berikut ini saya kutipkan secara singkat beliau dari Wikipedia. Selamat membaca :

Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Sosroningrat, bupati Jepara. Beliau putri R.M. Sosroningrat dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Kala itu poligami adalah suatu hal yang biasa. Kartini lahir dari keluarga ningrat Jawa. Ayahnya, R.M.A.A Sosroningrat, pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Teluwakur, Jepara. Peraturan Kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Beliau adalah keturunan keluarga yang cerdas. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa.

Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit. Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, dimana kondisi sosial saat itu perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah. Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.

Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, RM Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis. Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

source : http://bukucatatan-part1.blogspot.com/2009/04/sejarah-hari-kartini.html
....................readmore

gravatar

Inilah Riwayat Singkat Raden Ajeng Kartini


http://www.alakadarnya.net/wp-content/uploads/2012/04/kartini.jpg Hari Kartini, begitulah kebanyakan dari kita menyebutnya. Hari yang biasanya diperingati oleh kebanyakan kaum perempuan. Tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini setelah Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan tanggal 21 April merupakan tanggal dimana memperingati Hari Kartini.

Menjelang tanggal 21 April (meskipun masih lama) yang tentunya akan kita peringati bersama ini, saya berinisiatif dan  hanya ingin berbagi tentang riwayat dari seorang Raden Ajeng Kartini. Memang ini bukan tulisan original, maklum saya bukanah seorang sejarawan, hehe tapi saya yakin ini akan memberi manfaat bagi anda. Oke langsung saja nih tulisannya  !
Raden Ajeng Kartini dilahirkan di Jepara pada tanggal 21 April 1879. Beliau adalah Putri dari seorang Bupati Jepara pada waktu itu, yaitu Raden Mas Adipati Sastrodiningrat. Dan merupakan cucu dari Bupati Demak, yaitu Tjondronegoro. Pada waktu itu kelahiran Raden Ajeng Kartini, nasib kaum wanita penuh dengan kegelapan, kehampaan, dari segala harapan, ketiadaan dalam segala perjuangan, dan tidak lebih dari perabot kaum laki-laki belaka, dan bertugas tidak lain dari yang telah ditentukan secara alamiah, yaitu mengurus dan mengatur rumah tangga saja, kaum wanita telah dirampas dan diinjak-injak harkat dan martabatnya sebagai manusia.
Daya berpikir kaum wanita tidak dapat berkembang sebagaimana mestinya, kaum wanita tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan dirinya untuk melebihi dari apa yang diterimanya dari alam. Karena kaum wanita tidak berdiri kesempatan untuk belajar membaca, menulis dan sebagainya. Dengan kata lain kaum wanita hanya mempunyai kewajiban tetapi tidak mempunyai hak sama sekali.
Raden Ajeng Kartini yang telah meningkat dewasa pada waktu itu, tidak dapat melihat kenyataan ini meskipun beliau dilahirkan didalam lingkungan ditengah-tengah kebangsawanan atau keningratan yang pada waktu itu mempunyai taraf kehidupan sosial yang sangat berbeda dengan masyarakat banyak yang hidup didalam lingkungan kehidupan adat yang sangat mengekang kebebasan tetapi beliau tidak segan-segan turun kebawah bergaul dengan masyarakat biasa, untuk mengembangkan ide dan cita-citanya yang hendak merombak status sosial kaum wanita, dan cara-cara kehidupan dalam masyarakat dengan semboyan : “Kita harus membuat sejarah, kita mesti menentukan masa depan kita yang sesuai dengan keperluan serta kebutuhan kita sebagai kaum wanita dan harus mendapat pendidikan yang cukup seperti halnya kaum laki-laki”.
Dengan melanggar segala aturan-aturan adat pada saat itu, Raden Ajeng Kartini mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya yang setara dengan pendidikan kaum penjajah belanda pada waktu itu, beliau sempat mempelajari kegiatan-kegiatan kewanitaan lainnya.
Dengan pengetahuan serta pengalaman yang didapatnya, Raden Ajeng Kartini secara berangsur-angsur dan setahap demi setahap tapi pasti berusaha menambah kehidupan yang layak bagi seorang kaum wanita.
Perkawinan Raden Ajeng Kartini pada tahun 1903 dengan Raden Adipati Joyoningrat Bupati Rembang mengharuskan beliau mengikuti suami, dan di daerah inilah beliau dengan gigih meningkatkan kegiatannya dalam dunia pendidikan. Peranan Suami, dalam usaha Raden Ajeng Kartini Meningkatkan perjuangan sangat menentukan pula karena dengan dorongan dan bantuan suaminyalah beliau dapat mendirikan sekolah kepandaian putri dan disanalah beliau mengajarkan tentang kegiatan wanita, seperti belajar jahit menjahit serta kepandaian putri lainnya.
Usaha-usaha Raden Ajeng Kartini dalam meningkatkan kecerdasan untuk bangsa indonesia dan kaum wanita, khususnya melalui sarana-sarana pendidikan dengan tidak memandang tingkat dan derajat, apakah itu bangsawan atau rakyat biasa. Semuanya mempunyai hak yang sama dalam segala hal, bukan itu saja karya-karya beliau, persamaan hak antara kaum laki-laki dan kaum wanita tidak boleh ada perbedaan. Beliau juga mempunyai keyakinan bahwa kecerdasan rakyat untuk berpikir, tidak akan maju jika kaum wanita ketinggalan.
Inilah perjuangan Raden Ajeng Kartini yang telah berhasil menampakkan kaum wanita ditempat yang layak, yang mengangkat derajat wanita dari tempat gelap ketempat yang terang benderang. sesuai dengan karya tulis beliau yang terkenal, yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Raden Ajeng Kartini meninggal dunia dalam usia 25 tahun, beliau pergi meninggalkan Bangsa Indonesia dalam usia yang relatif muda, yang masih penuh dengan cita-cita perjuangan dan daya kreasi yang melimpah.
Tetapi perjuangan serta cita-cita beliau tetap berkumandang dan berkembang, terbukti dalam masa pembangunan sekarang ini tidak sedikit kaum wanita yang memegang peranan penting, baik dalam pemerintahan dalam bidang swasta sesuai dengan profesi masing-masing.
Demikianlah pengungkapan kembali sejarah perjuangan Raden Ajeng Kartini, semoga peringatan kali ini membawa manfaat dan membulatkan tekad kita bersama dalam membangun masyarakat, bangsa dan negara yang sangat kita cintai ini, dan kita dapat memetik buahnya serta butir-butir perjuangan beliau demi kelanjutan perjuangan bangsa indonesia umumnya dan perjuangan wanita khususnya.

source : http://www.alakadarnya.net/riwayat-singkat-raden-ajeng-kartini/
....................readmore

gravatar

Penghancuran PKI dan Pembantaian Tahun 1965

 Tahun 1965-1966 merupakan tahun yang sengaja “dilupakan” dalam sejarah Indonesia. Rezim Orba hanya membenarkan satu versi mengenai peristiwa 1 Oktober 1965, sedangkan berbagai versi lainnya yang ditulis oleh pengamat Barat hampir tidak dikenal masyarakat luas. Pembantaian yang terjadi sesudah percobaan Kudeta yang gagal itu hanya tinggal sebagai trauma bagi orang-orang yang kebetulan mengalaminya. Penelitian tentang sejarah 1965 tertutup rapat bagi warga di tanah air kita. sampai saat ini, untuk menengok koran tahun 1965-1966 di perpustakaan Nasional jakarta masih perlu minta izin dari pihak keamanan.Penghancuran PKI dan Pembantaian Tahun 1965
Beruntunglah orang Indonesia yang sempat belajar di luar negeri sehingga dapat mempelajari peristiwa 1965  itu secara leluasa. Sebagian koran-koran terbitan tahun 65-66 dapat dijumpai di Leiden atau di Cornell. Sungguhpun penelitian lapangan pada masa Orba mesti dilakukan secara klandestin, artinya dikerjakan dengan menyamarkan sebagai riset dengan tema lain seperti sejarah pesantren.
Dua disertasi yang ditulis peneliti Indonesia adalah The destruction of the Indonesian Communist party (a comparative analysis of East Java and bali. oleh Iwan gardono Sudjatmiko di Harvard University (1992) dan The forgetten Years: The indonesia’s Missing history of mass Slaughter (Jombang-Kediri, 1965 – 1966) oleh Hermawan Sulistyo pada Arizona State University tahun 1997.
Jumlah Korban pembantaian tahun 1965 – 1966 itu tidak mudah untuk diketahui secara persis. Dari 39 artikel yang dikumpulkan Robert Cribb, banyak korban berkisar 78.000 sampai 2.000.0000 jiwa. Bila semuanya dijumlah  dan di dan dibagi 39, maka akan didapat rata-rata 430.590 orang. Angka ini cukup moderat, tidak terlampau rendah dan tidak terlampau tinggi. Sebanyak 65% korban terdapat di Jawa tengah, jawa Timur dan bali. yang jelas, peristiwa itu telah melenyapkan PKI yang merupakan partai komunis terbesar ke tiga dunia.
Secara sosiologis, Iwan Gardono membagi 2 analisis kehancuran PKI, pertama, analisis yang menekankan perubahan sosial makro dan kedua, analisis berdasarkan aspek prilaku. Menurut kelompok yang pertama, kehancuran PKI disebabkan terjadinya polarisasi panjang yang menghasilkan masa transisi dari masyarakat tradisional sehingga terjadi Konflik antara PKI, PNI, NU dan TNI.
Penjelasan dengan menekankan kontradiksi antara negara yang berusaha meningkatkan keuasannya dengan upaya pencarian identitas nasional diketengahkan oleh Michael van Langenberg. menurut kelompok kedua, penyebab kehancuran PKI adalah perubahan pola paertai ini yang menerapkan strategi Peking dan meninggalkan pola peacefull coexistence ala Moskow. Orientasi PKI ke Peking yang dicanangkan 23-26 Desember 1963 mendorong ketegangan dan kerusuhan di daerah pedesaan. PKI melakukan mobilisasi massa dalam mendukung pelaksanaan UU pokok Agraria yang telah dikeluarkan tahun 1960 sehingga menimbulkan konflik di desa-desa. Selain dari pelaksanaan land reform, Sartono Kartodirjo juga melihat unsur pelecehan agama islam melalui ludruk dan wayang menjelang 1965 menyebabkan polarisasi dan konflik di tengah masyarakat.
Latar belakang geografis juga penting. Tahun 1962-1963 terjadi kemarau yang berkepanjangan yang disertai kegagalan panen padi, hama tikus yang merusak dan menimbulkan kelaparan di pulau Jawa. makanan Pokok, bensin dan minyak sering menghilang dari pasar. Kesulitan ekonomi menambah panas suhu politik. meletusnya gerakan 1 oktober 1965 menjadi klimaks dari kepengapan hidup selama bertahun-tahun sebelumnya dan memicu orang melakukan kekerasan di luar batas.
Dari hasil penelitian Hermawan sulistyo disimpulkan bahwa pembantaian PKI itu tidak dilakukan secara sistematis. Pola bervariasi dari suatu daerah ke daerah lain. Khusus menyangkut Jombang dan kediri, pembasmian PKI merupakan konsekuensi logis dari konflik yang sudah berlangsung mertahun-tahun antara berbagai faksi di dalam masyarakat Lokal.
Yang jelas ada 2 faktor pendukung. pertama budaya amuk yang dipercayai sebagai unsur penopang kekerasan. Kedua, konflik didaerah-daerah antara golongan komunis dan non-komunis terutama para kiai sidah tampak sejak tahun 1960-an. Ketiga: militer diduga juga berperan dalam menggerakkan massa. Keempat, faktor provokasi oleh media massa yang menyebabkan masyarakat menjadi geram.
Menjadi pertanyaan, apakah peristiwa pembunuhan massal terutama di lulau jawa dan bali itu dapat dikategorikan sebagai genosida oleh negara??. Tidak cukup bukti untuk mendukung pernyataan tersebut. menjadi tanda tanya, mengapa pihak keamanan tidak berusahan mencegahnya sehingga korban yang jatuh tidak sebanyak itu. Paling tidak, ada kesan bahwa mereka membiarkan hal itu terjadi. Bukankah itu berarti menyingkirkan kelompok yang menjadi musuh mereka selama ini

source : http://pustakasekolah.com
....................readmore

gravatar

Beberapa Pendapat Mengenai Gerakan 30 September G30S

 Mulai tahun 1998, Departemen penerangan memutuskan tidak lagi memutar film wajib tentang G30S pada semua saluran TV di Indonesia setiap tanggal 30 September malam. Kebijakan itu untuk menghindari kontroversi yang mungkin timbul dikalangan masyarakat di era reformasi ini yang akan mempertanyakan tentang apa yang sebetulnya terjadi di balik kudeta 1965. namun keputusan itu sebetulnya belum menyelesaikan persoalan utama dari segi penulisan dan pengajaran sejarah di Indonesia. Selama ini yang diajarkan disekolah adalah versi resmi peristiwa tersebut yang dikeluarkan oleh aparat keamanan dan pemerintah.
DN Aidit
DN Aidit
Sejarah adalah proses berkesinambungan dari interaksi antara sejarawan dan fakta-fakat yang dimilikinya, suatu dialog yang tidak berkesudahan antara masa sekarang dengan masa lampau. jadi tidak ada tulisan atau buku sejarah yang final. Dalam kasus G30S 1965 pun sebetulnya tidak ada interpretasi akhir dan tunggal terhadap peristiwa tersebut.
Sedikitnya 5 versi atau pendapat mengenai dalang peristiwa G30S ini, antara lain: Sebuah klik AD, CIA/pemerintah USA, Presiden Soekarno, Oknum PKI dan tidak ada pelaku tunggal.
Versi buku putih
Isi buku yang dikeluarkan oleh segneg itu sidah diketahui umum bahkan dipakai sebagai acuan dalam buku pelajaran sejarah yang diajarkan disekolah-sekolah. menurut buku ini, dalang G30S adalah PKI dengan memperalat unsur ABRI. persiapan gerakan telah dilakukan sejak lama dengan tujuan merebut kekuasaan dan menciftakan masyaraka komunis di Indonesia.
Meskipun kalimat-kalimat dalam sebuah buku yang tergolong sejarah resmi bisa direkayasa, namun ada teknik untuk membacanya dengan cara lain. Didalam buku G30S, Pemberontakan PKI, itu terdapat indeks nama sebanyak 306 orang tokoh (pada halaman 10). 10 tokoh yang paling sering disebut adalah: Bung Karno 64 kali, Presiden Ir. Soekarno 64 kali, D.N. Aidit 48 kali, Syam kamaruzaman 29 kali, Mayjen Soeharto 21 kali, Letkol Untung 20 kali, Letjen A. yani 18 kali, Laksamana madya Umar Dhani 18 kali, Kol. Inf. A. Latief 17 kali, Jenderal AH. nasution 13 kali.
Jadi kalau kita melihat daftar indeks itu terlihat bahwa kasus tersebut pada intinya menyangkut Presiden Soekarno 12 kali, dua tokoh PKI (Aidit dan Syam) 77 kali, dan dua kbu perwira ABRI 107 kali. Dalam indeks kata penting, tiga kata yang paling sering muncul adalah: gerakan 30 September, Dewan Revolusi dan dewan Jenderal. sedangkan kata PKI hanya disebut 2 kali. Jadi buku ini lebih banyak berbicara tentang tokoh PKI, yaitu Aidit dan Syam ketimbang mengenai PKI sebagai organisasi sosial politik.
Klik Angkatan Darat
Setahun setelah peristiwa yang berkubang darah itu 2 ilmuwan Cornell University USA, Benedict R. Anderson dan Ruth Mc Vey menulis kertas kerja “A preliminary analysis of the October 1, 1965: Coup in indonesia” yang kemudian dikenal sebagai Cornell Paper. Ben Anderson dan Ruth Mc. Vey berkesimpulan bahwa peristiwa G30S merupakan puncak konflik intern di tubuh AD. kedua penulis tersebut kemudian dicekal masuk ke Indonesia oleh Rezim Orba. Sedangkan Harold Crouch dalam bukunya The Army and politics in Indonesia (1978) mengatakan bahwa menjelang 1965, SUAD pecah menjadi 2 faksi. kedua faksi itu sebetulnya sama-sama anti PKI, tetapi yang berbeda sikap dalam menghadapi presiden Sokerno. Yang pertama adalah faksi tengah yang loyal terhadap Bung karno, dpimpin oleh mempangad Mayjen. A.Yani, hanya menentang kebijakan SoehaKarno tentang persatuan nasoinal, dimana PKI termasuk di dalamnya. Sedamgkan kelompok kedua faksi kanan, bersikap menentang kebijakan Yani yang bernapaskan Soekarnoisme. Didalam faksi ini terdapat jenderal nasution dan Mayjen Soeharto. Menjelang 1965 Soekarno mencium faksionalisme itu dan mulai memecah belah kedua kubu tersebut.
Peristiwa G30S yang berdalih menyelematkan Soekarno, sebenarnya ditujukan dalam faksi tengah. Dengan demikian, menurut Cornell paper, akan melapangkan jalan bagi perebutan kekuasaan oleh kekuatan sayap kanan AD. Sedangkan W.F. Wertheim dalam buku Whose Plot? New Light on The 1965 Event (1979), disamping mendukung versi di atas juga menambahkan bahwa Syam Kamaruzaman yang di dalam buku putih sekneg disebut sebagai kepala Biro Chusus Central PKI adalah agen rangkap yang bekerja untuk Aidit dan AD.
CIA / Pemerintah USA
versi ini didukung oleh Peter Dale Scott dan Geofrey Robinson. Dalang utama G30S adalah CIA yang ingin menjatuhkan Soekarno dan kekuatan komunis (teori domino). CIA beekrja sama dengan sebuah klik AD untuk memprovokasi PKI. Teori ini cukup kuat bila dikaitkan dengan konteks perang dingin (cold War). Apalagi kalau dibaca buku George Mc. T. Kahin tentang keterlibatan CIA dalam kasus PRRI dan permesta beberapa waktu sebelumnya, maka bukan mustahil, CIA juga memegang peranan dalam peristiwa G30S tersebut.
Presiden Soekarno
Versi ini dikemukakn oleh Antonie Deke dan John Hughes. menurut mereka G30S adalah Skenario yang dipersiapkan Soekarno untuk melenyapkan oposisi sebagian perwira tinggi AD. PKI ikut terseret akibat sangat tergantung kepada Soekarno.
Tidak ada pelaku Tunggal
ini terungkap dalam nawaksara dan pelengkap Nawaksara Soekarno dan juga dalam buku manai Sophian dan Oei Tjoe Tat yang menganggap G30S adalah sebuah konspirasi dimana unsur-unsur nekolim ingin menggagalkan jalannya revolusi Indonesia. Hal ini terjadi karena ditunjang oleh pimpinan PKI yang keblinger dan oknum-oknum AD yang tidak benar.
Oknum PKI
Sebuah tim dari Institut Studi Arus Informasi menulis buku bayang-bayang PKI tahun 1995. Mereka mengemukakan bahwa sebetulnya telah terjadi perpecahan Oki menjelang tahun 1965. Gerakan ini tidak diketahui oleh mayoritas anggota PKI di seluruh Indonesia. Hanya segelintir orang seperti Aidit dan Syam yang bersekonkol dengan perwira tentara yang merancang kudeta tersebut

source : http://pustakasekolah.com
....................readmore

gravatar

Inilah Catatan Mengenai Peristiwa Gerakan 30 September (G30S)

 Menjelang terjadinya peristiwa G30S, tersiar kabar bahwa kesehatan presiden mulai menurun dan berdasarkan diagnosis dari team dokter RRC ada kemungkinan Presiden Soekarno akan lumpuh atau bahkan mangkat. Setelah mengetahui keadaan Presiden Soekarno seperti itu, Dipa Nusantara (DN) Aidit langsung mengambil keputusan untuk memulai gerakan. Rencana gerakan diserahkan kepada Kamaruzaman alias Syam (tokoh misterius, belakangan diduga agen CIA). yang diangkat sebagai Ketua Biro Chusus PKI dan disetujui oleh DN Aidit. Biro Chusus itu menghubungi kadernya di kalangan ABRI, seperti Brigjen Supardjo, Letkol Untung dari kesatuan Cakrabirawa, Kol. Sunardi dari Angkatan laut, Marsekal madya Omar Dani dari Angkatan udara dan Kol. Anwar dari kepolisian (POLRI).
menjelang pelaksanaan G30S, pimpinan PKI telah beberapa kali mengadakan pertemuan rahasia. Tempat pertemuan terus berpindah dari satu tempat ketempat lainnya. Melalui serankaian pertemuan itu, pimpinan PKI menetapkan bahwa gerakan 30 September 1965 secara fisik dilakukan oleh kekuatan militer yang dipimpin oleh letnan kolonel Untung Sutopo, Danyon I Resimen Cakrabirawa (Pasukan Pengawal presiden) yang bertindak sebagai pimpinan formal seluruh gerakan.
Sebagai pemimpin dari G30S, Letkol Untung Sutopo mengambil suatu keputusan dan memerintahkan kepada seluruh anggota gerakan untuk siap dan mulai bergerak pada dini hari 1 Oktober 1965.
Pada dini hari itu, mereka melakukan srangkaian penculikan dan pembunuhan terhadap enam perwira tinggi dan seorang perwira pertama dari Angkatan darat (AD). Para perwira AD disiksa dan selanjutnya dibunuh. Mereka dibawa ke Lobang Buaya, yaitu satu tempat yang terletak di sebelah selatan pangkalan udara utama Halim Perdana Kusumah. Selanjutnya para korban dimasukkan kedalam 1 sumur tua, kemudian ditimbun dengan tanah dan sampah. Ketujuh korban dari TNI AD adalah:
  1. Letjen Ahmad Yani (Men Pangad)
  2. Mayjen R. Soeprapto (Deputy II pangad)
  3. Mayjen Haryono MT (Deputy III pangad)
  4. Mayjen S. Parman (Ass. I Pangad)
  5. Brigjen DI Panjaitan (Ass. IV pangad)
  6. Brigjen S. Siswomihardjo (Inspektur kehakiman Militer)
  7. Lettu Pierre Andreas Tendean (Ajudan jend. Abdul Haris nasution)
Ketika terjadi penculikan itu, jenderal AH Nasutin berhasil kabur, namun sempat ditembak kakinya serta Puterinya yang bernama Ade irma Suryani menjadi korban salah tembak oleh pasukan penculik, yang mengakibatkan Ade irma ini nyawanya tidak tertolong.
Ajudan AH nasution yang bernama Lettu Pierre A. Tendean juga menjadi korban. sedangkan korban lainnya adalah Pembantu letnan Polisi Karel Sasuit Tubun. Ia gugur saat melakukan perlawanan terhadap pasukanpenculik jenderal AH nasution.
Pada waktu yang bersamaan, pasukan G30S melakukan perebutan kekuasaan di Yogyakarta, Solo, Wonogiri dan Semarang. Selanjutnya gerakan tersebut mengumumkan berdirinya Dewan Revolusi melalui siaran RRI yang dibacakan langsung oleh Letkol Untung Sutopo. Sementara itu di Yogyakarta, Dewan revolusi diketuai oleh Mayor Mulyono. Mereka telah melakukan penculikan terhadap Kol. Katamso dan Letkol Sugijono. Kedua perwira TNI-AD ini dibunuh oleh pasukan penculik didesa Kentungan yang terletak disebelah utara Kota Yogyakarta. [ps]

source :
....................readmore

Image and video hosting by TinyPic

Klik Disini untuk melihat ke situs resmi SUZUKI

Temukan Artikel yang Ingin Anda Cari Disini

Language Translate

Komunitas

Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic