Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic
Jika kemarin tidak berakhir seperti yang kamu inginkan, ingatlah jika Tuhan ingin kemarinmu sempurna, Dia tidak perlu ciptakan hari ini
Image and video hosting by TinyPic

Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Puisi. Tampilkan semua postingan

gravatar

Kumpulan Puisi Naim Ali


BABAD DOA
Seorang luka berdoa. Mengucap-ucap berimbun mantra.
Rapalnya ditimbulkan dari gumpalan panji, dimuntahkan oleh mulutnya sendiri. Yang tumpah mewujud suara, yang menggema itu irama. Iramanya menjelma warna namun mata siapa saja tak mungkin bisa mengeja
kecuali malaikat.
Konon, atas titah tuan paling kekar, hanya dia yang bisa menakar irama mana yang menggetar.
Getarnya ditanam di ujung langit. Bila sanggup membuat langit gembur pastilah getar itu tumbuh subur, meninggi, merindang dan menguncup bunga sebentar langsung mekar.
Aroma bunga menyebar menyeru alam kemudian kembali memboyong awan. Awan kegirangan, dengan senang hati menabur hujan seperti butir-butir segar, selembut embun melenggang lembut melabuh gemilang, tepat di belahan cita yang kekeringan.
Seorang luka itu akhirnya mendulang riang tapi rautnya tak berujar senang, malah heran bukan kepalang. Batinnya, kenapa harus dia yang merapal? Bukankah para ceria itu juga butuh bekal?
Lama hatinya saling tanya, seorang luka tadi berdoa lagi. Kiranya halimun pagi nanti menebar prasasti berukir jalan cerita, asal mula para ceria melambung tinggi. ___________ Okotober, 2010
BUNGKUS DAUN PISANG
Kupunyai sebungkus rahasia dari keparat:
malam tadi dia menyelinap dalam selimut dan meninggali sebungkus matang daun pisang yang terkunci tusukan lidi. Nyaliku tak kuasa membuka. Kuterka saja, sebungkus itu berisi baju dan celana.
Setelah itu bungkusan kurebahkan di samping bantal dekat telinga biar tambah kusut anganku malam itu juga. Ternyata benar adanya, ranjangku berangsur mengkerut padahal petang masih akan lama mengebiri.
Ah, mengganggu saja.
Langsung kukunci diri dalam lemari ditemani seekor kunang peliharaan baik hati sampai pagi mengusik tepi jendelaku yang sepi.
Sekarang bungkusan itu kuntinggal sendiri dalam laci. Sementara aku mandi dan lekas pergi. Biaralah itu matang atau usang tidak akan kubuka. Pasti berisi baju dan celana.
Aku masih ingin menikmati kesegaranku bertelanjang ria. ___________ Akhir Maret, 2011
PERAWAT JENAZAH : untuk Bu Zuh, juga semua ibu /1/ Dia perempuan. Urai panjang rambutnya selamanya menghitam malam, sepasang matanya bertoreh baskara, tangan kanan menggenggam fajar yang kiri menadah ranah buritan. Kakinya mengayun angin di atas dipan -dinikmati itu seumpama candu- dan bila waktunya datang, ia langkahkan kemana berjalan. Kini jalannya melesat tak terhambat: baginya cuma satu, cabang dan ranting itu semu; maju. Katanya kematian tak jemu menunggu.
/2/ Bila saja mampu, bukan pada alam ini nyawanya berdiri. Ia lebih tenang jika menyanding matahari dalam kisar galaksi. Sebab ia bisa merajuk dayagunanya agar planet dan bintang mungil itu berpijar wajar atau melebur gentar. Selaik keindahan tanpa rintih yang menyuara gelegar, begitu tenang dan tenteram. Apalah daya, tetap saja ia kumpulan debu dengan senyawa yang juga diburu. Ia bersaksi itu tiap kali akan menggerutu.
/3/ Dipersiapkan berlapis gelombang putih untuk dilaraskan. ruah bening dari berbagai mata air dikumpulkan serta digenangi penggal-penggal dunia selebar kelor. tak luput wewangi alam yang bernafas dihimpun sampai nanti dihembus salam. Beruntun, kepada sebujur jasad, ia kabungkan kesemua lapis gelombang itu setelah tetumpah mata air dibasuhkan dan ditiupi salam wangi. Sesungguhnya ia tahu, berkali ia menyaksi nyawa mengambang di sela berkasih dan bersayang dibalutkan.
/4/ Barangkali tak ubahnya seorang musafir. Setelah lelah menempuh safar; mengikuti kaki hilir dan memutar badan, ia bujur keseluruh tubuh tanpa mengacuh kiri kanan. yakin ia sudah kumuh. Apa peduli dengan selembar tanah yang baru ia gelar. Merebah saja dan segala pemandangan dipejam. ____________ April, 2011
PUISI DI LUAR MIMPI
Kabarnya menjalar dari mata ke bibir, lalu bibir mengulum kuping kemudian banyak yang nyengir. Bahwa ia sanggup menemukan juga menerka puisi yang bakal dari mimpi malam milik orang-orang kasihan, meski hal demikian bukan ia harapkan bahkan mengakibat ia jengah menampakkan diri.
Sampai akhirnya berbagai orang kasihan rela mengantrikan waktu mereka padanya agar ia mengorek habis semua puisi dalam mimpi yang baru mereka temui.
“Semalam kutemui bidadari menggotong berkarung cabai!” “Bolaku kempes digigit Pak Kades!” “Sekolah anakku roboh digilas gedung tinggi!” “Aneh, bom ikan kujadikan rompi. Ada apa ini?” “Kenapa aku jadi kenek pesawat terbang, bukankah pesawat tidak butuh kenek?” dan masih banyak mimpi mereka bila dituruti.
Karena gerah enggan menggubris jawaban, ia sembunyi di kamar mandi. Lama sekali. “Jangan ganggu aku dulu”, katanya pada istrinya yang takut hampir mati. Sedang orang-orang kasihan masih rela mengantri tidak mau mati.
“Aku menulis puisiku sendiri untuk mimpiku malam nanti.” “Sudah jadi?” tanya istrinya hati-hati. “Tidak jadi!” sambil menenggelam diri dalam bak mandi. “Nafasku luntur disini. Usir saja mereka atau bantu aku menulis puisi.” __________ April, 2011
Biodata Penulis
Naim Ali, lahir dan tinggal di Kediri. Gemar baca tulis, terutama puisi. Bergiat di Taman Bacaan Mahanani Kediri, sebuah taman baca gratis untuk meningkatkan minat baca masyarakat, khususnya anak-anak.

source : http://oase.kompas.com/read/2011/04/30/00204422/Puisipuisi.Naim.Ali
....................readmore

gravatar

Puisi-puisi Abimardha Kurniawan

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO ilustrasi
Malam Hujan
maafkan, ini malam terlampau sesak berbeban sunyi dan geligi hujan.
aku pun terhalang pada pandang, gagal menjumpai kata-kata berperahu, menempuh riam jeram sungai berbatu, dari bibirmu jauh ke pedalaman tidurku...
2006
Nyanyain Pagi
kini, aku dan puisiku kembali menghirup pagi setelah kemarin, kukenang kata-katamu — juga warna senyummu— sebagai ketabahan senja yang selalu membuka pintu, bagi angin, hujan, serta malam
aku mengeja cinta yang penuh nyanyian namun enggan aku suarakan, sebab aku biarkan ceracau hujan riang berkejaran dengan bisik gugur daun yang jatuh di jalanan
akhirnya, seisi pagi aku lukis jua lewat kata, lewat demam rindu yang terus bersuara, oleh karena senantiasa aku tahu diri dan puisimu, berlagu di situ...
2007
Terdengar Suara Hujan
terdengar suara hujan mematuk punggung jalan, terakota atap, selaput daun, dan tik-tok detik terbantun. cahaya pun murung, langit muram gagal mengumpan bianglala dari lubuk cuaca
“aku rindu mati, aku rindu papan namaku kau paku di punggung pintu. seperti engkau hujan — aku selalu menunggu luruh di pelataran”
terdengar suara hujan menginjak rumput taman, lantai trotoar, meniti kawat-kawat menjalar: seakan pekik mualim memanggil, membujuk bujang datang berlayar
“aku rindu ombakmu, aku rindu bahasa laut yang fasih mengucap maut. hujan, kau gurat sungai, kau jadikan jalan, atas temali cinta antara hulu dan muara. hujan, ciptakan laut di atas dunia biar manusia bersua hakikatnya”
terdengar suara hujan menjentik di air kolam, gigil kerikil, dan bebatuan yang mengulum diam — mungkin juga mengulum dendam
2007
Sebelum Kata
ingin aku ciptakan kata demi kata yang mampu membuahkan senyum bibirmu setelah gerimis rahasia menyusun cerita tentang malam yang membeku pada helaian rambutmu
2010
Stanza Bulu Mata
lengkung bulu mata milik boneka yang kau timang dulu kini menjelma gemaris indah yang menggigir di sisi sayu pelupukmu. lembaran cahaya pun berlompatan dari keajaiban sepasang tatap mata
dan aku menyebutnya — surat cinta... ah, lengkung bulu mata yang menyimpan bianglala, yang menyeret gemulung awan ke ambang senja, kini jadi hujan dalam kata-kata yang tengah kau baca
2010
Abimardha Kurniawan, lahir di Surabaya, 26 Maret 1986. Aktif di Teater Mata Angin Universitas Airlangga, Surabaya. Tulisan dan puisi-puisinya pernah muncul di media massa (cetak maupun online). Puisi-puisinya terhimpun dalam antologi bersama, seperti Monolog Kelahiran (2006), Rubaiyat Daun (2006), Kepada Mereka yang Katanya Dekat dengan Tuhan: Antologi Penyair Mutakhir Jawa Timur (2007), Surabaya 714: Antologi Puisi Malam Sastra Surabaya (2007), Ponari for President (2009), dan Ekstase Perenungan (2010), Antologi Festival Bulan Purnama Majapahit (2010), dan Beranda Senja (2010). Saat ini tinggal (sementara) di Yogyakarta. Alamat email: abimardhakurniawan@yahoo.com

source : http://oase.kompas.com/read/2011/04/04/23315564/Puisipuisi.Abimardha.Kurniawan 
....................readmore

gravatar

LOVE IS THE SOURCE OF LIFE

Love is
being happy for the other person
when they are happy
being sad for the person
when they are sad
being together in good times
and being together in bad times
Love is the source of strength

   Love is
   being honest with yourself at all times
   being honest with the other person at all times
   telling, listening, respecting the truth
   and never pretending
   Love is the source of reality
....................readmore

gravatar

Puisi Cinta

MENCARI ARTI CINTA DAN KESETIAAN

Cinta sejati, cinta murni, cinta suci, bahkan cinta monyet.
Aku tak mengerti arti semua itu.
Yang aku tahu jika berada di dekatmu jantungku berdegup kencang.
Yang aku tahu jika menatap matamu tubuhku beku.
Yang aku tahu jika bicara dengan mu lidah ku kaku.
....................readmore

gravatar

Puisi Mansur Samin

AGUSTUS
 
Oleh :
Mansur Samin


Berdirilah hening dalam kehampaan malam
jiwa siapa yang patut dikenang
hitung dari mula
kerna letak kejadian indah
adalah hadirnya upcara duka
membangun kepercayaan teguh
 
Apakah mereka dengan kita bicara
menghitung hari-hari silam kehilangan rupa
atas rumah-rumah di lingkaran gelap
atas anak-anak di ketiadaan harap
dari dulu terduga selalu
Berdrilah hening dalam kehampaan malam
ucapkan lunak kesanggupan yang bimbang
jangan tangisi, jangan hindari kenyataan ini
kerna fajar pagi akan membuka langit letihnya
menyediakan tanya untuk kita saling tidak bicara
 
Di mendung gerimis Agustus ini
simpanlah risalah lama melantung kedalaman
tentang hari-hari gemilang yang akan datang
tentang akhir-akhir hutang yang tiada pegangan
heningkan di sini, jangan dengan separo hati !
Berdirilah hening dalam kehampaan malam
melupakan cedera kehilangan rupa
tegakkan pula
suatu bentuk baru di hatimu mengorak jauh
suatu pandangan kudus di pilumu diam bergalau
kita pun semua tahu untuk apa mengenang itu.
....................readmore

gravatar

Puisi - puisi dari Penyair terkenal

AKU
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943
....................readmore

Image and video hosting by TinyPic

Klik Disini untuk melihat ke situs resmi SUZUKI

Temukan Artikel yang Ingin Anda Cari Disini

Language Translate

Komunitas

Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic